Bikin Penasaran, Toko Buku di Ginza Hanya Jual Satu Buku

Yoshiyuki Morioka, penggagas ide menarik ini mengusung moto “Issatsu, Isshitsu” yang artinya “Satu Ruangan, Satu Buku”. Ia hanya menawarkan satu judul buku saja dengan memajang bukunya di atas meja dan disimpan di tengah ruangan yang cukup mungil.

Bikin Penasaran, Toko Buku di Ginza Hanya Jual Satu Buku
Wujud tampak depan toko buku Morioka Shoten Ginza, di Tokyo, Jepang yang hanya menjual satu buku per pekan. Sumber: https://thekarachiite.com

Apa yang ada dipikiranmu jika disuruh membayangkan sebuah toko buku? Jajaran buku di rak yang besar hingga menutupi seluruh dinding bukan? Lalu kamu bisa memilih jenis buku mulai dari fiksi, non fiksi, komik, kiat-kiat mengatasi permasalahan hidup, bahkan buku yang lagi happening. Namun, tak jarang juga kamu melewati—dan memasuki toko buku lalu kebingungan kepengin punya buku yang mana. Sampai akhirnya aroma buku yang berderet itu bikin kamu kebablasan belanja yang sebagian bukunya ternyata bukan “kamu banget”.

Berbagai imajinasimu tadi bisa kami patahkan dengan sebuah toko buku unik yang satu ini loh! Toko buku anti mainstream ini bisa kamu temui tepat di sepanjang jalan Ginza, Tokyo, Jepang—bernama Morioka Shoten Ginza. Bahkan kamu bisa menyesuaikan selera bacaan kamu dengan buku yang tersedia pada saat itu. Yuk, simak cerita toko buku unik ini!

Alamat Toko Buku Morioka Shoten Ginza di Jepang. Sumber: rivaldis21.blogspot.com

Alamat Toko Buku Morioka Shoten Ginza di Jepang. Sumber: rivaldis21.blogspot.com

Yoshiyuki Morioka, penggagas ide menarik ini mengusung moto “Issatsu, Isshitsu” yang artinya “Satu Ruangan, Satu Buku”. Ia hanya menawarkan satu judul buku saja dengan memajang bukunya di atas meja dan disimpan di tengah ruangan yang cukup mungil. “Hanya ada satu judul setiap minggunya,” kata Yoshiyuki saat diwawancara oleh Guardian, dilansir
dari cnnindonesia.com (29/12/2015).

Bagian depan Toko Buku Morioka Shoten Ginza. Sumber: news.okezone.com

Bagian depan Toko Buku Morioka Shoten Ginza. Sumber: news.okezone.com

Berawal dari mengelola toko buku besar di Kayabacho selama 10 tahun sebanyak kurang lebih 200 buku, ternyata membuat ia berpikir cara tersebut kurang efektif. Hal ini disebabkan dari pengalamannya, dimana para pengunjung hanya membeli satu judul buku. Bahkan terkadang tidak jadi membeli setelah memasuki tokonya itu.

“Dulu saya sering melakukan acara peluncuran buku di toko saya dan seringkali, orang datang hanya untuk mencari buku tertentu,” lanjut pemilik toko Morioka Shoten Ginza ini. Dari situlah, ia mensulap ruangan mungilnya menjadi lebih sederhana. “Ini lebih seperti rekomendasi bacaan setiap minggu.”

Namun, idenya tak henti sampai sana. Jika toko buku pada umunya menggelar pameran buku yang ditumpuk-tumpuk ditutupi tenda dan poster diskon yang menggiurkan, Morioka lagi-lagi mencuri perhatian dengan cara lain. Para pengunjung bisa menikmati suasana intimate dengan penulis baik itu mengobrol atau aktivitas lainnya. Dekorasi tokonya pun berganti setiap minggu sesuai dengan judul buku yang diluncurkan saat itu, Ia memberi contoh, jika bukunya bertemakan bebungaan, maka ruangannya akan dihiasi ragam bunga pula. “Toko buku saya bisa berfungsi seperti ruang pameran, dimana penulisnya bisa berekspresi dengan isi buku lewat dekorasi toko,” jelasnya.

Dengan menciptakan konsep seperti ini, para pencinta buku tampak dibikin mati penasaran. Bagaimana bisa ia menjual dengan bermodalkan satu buku? Ide cerdas dari sang penggagas mampu membaca pasar dan peluang. Padahal, kita mampu merasakan sendiri bahwa setiap membeli buku akan selalu ada rencana sebelumnya. Sehingga tema yang dipikirkan sedari rumah ke toko buku sudah terbentuk. Tapi, justru Yoshiyuki Morioka, satu-satunya yang bisa ‘mencuri’ ide ini.

Terwujudnya Morioka Shoten Ginza, ia manfaatkan dari kunjungannya ke acara Takram Academy yang diusung oleh Takram Design Studio. Acara tersebut menghadirkan Masamichi Toyama, CEO Smiles Co. Ltd—yang menantang para peserta unjuk gigi membuat ide bisnis untuk dibeli oleh Toyama. Saat itu Morioka berhasil menarik perhatiannya hanya dengan bermodalkan selembar kertas untuk dipresentasikan berjudul: Regeneration of Bookseller Atom → A bookstore with a single book.


Berbagai sepak terjang yang ia lalui bertahun-tahun dan kecintaannya pada literatur, Morioka mampu membuat toko uniknya ini laris manis walaupun dengan menjual satu buku per pekan. Idenya ini telah menarik perhatian terutama bagi para pencinta buku dari penjuru dunia. Ia telah meraup penjualan lebih dari 2.000 buku sejak Mei 2015.

Morioka Shoten Ginza tampak luar berada disepanjang jalan Ginza, Tokyo, Jepang. Sumber: rivaldis21.blogspot.com

Morioka Shoten Ginza tampak luar berada disepanjang jalan Ginza, Tokyo, Jepang. Sumber: rivaldis21.blogspot.com

Konsep ruangannya pun sangat sederhana, tidak banyak barang yang tidak perlu. Bagian luarnya sudah terlihat sangat klasik dengan bermodalkan dinding batu bata berwarna coklat. Lalu jika kamu masuk kedalam ruangan, lantai betonnya dibiarkan apa adanya, dinding dan langit-langitnya dicat berwarna putih. Counter berukuran sedang juga tak lupa ia simpan sebagai meja kasir atau pelayanan, dan penyimpanan arsip-arsip.

Wah, mana suaranya para penggila buku dari Indonesia? Membayangkannya saja sudah bikin kamu penasaran dan pengin pergi ke Jepang kan? Buat yang belum punya ongkos untuk terbang ke Negeri Sakura, ide menarik seperti ini bisa jadi inspirasi bisnis buatmu loh! Lebih memudahkan kepada calon pembeli dan menguntungkan pihak penulisnya pula. Modalnya juga bisa diminimalisir karena hanya butuh rak, meja, dan stok buku yang sedikit. Apalagi, aku sendiri pun belum pernah dengar tuh ada konsep sejenis ini selain di Jepang. Siapa tahu kamu bisa bikin versi Indonesia-nya dengan ciri khas kamu kan? Nah, untuk kamu yang tertarik dibidang bisnis literatur, pilih ide seperti ini atau jadi kepikiran ide menarik yang melebihi sang penggagas, Yoshiyuki Morioka nih? Bagikan kreativitasmu di kolom komentar yuk!