Jelajah Kuliner Lewat Film Aruna dan Lidahnya, Auto Bikin Laper!

Dari berbagai dialog cerdas dalam film, saya sangat setuju dengan ucapan Bono kepada Farish di pertengahan film, “hidup itu kayak makanan, dalam satu piring ini lo bisa ngerasain yang sepait-paitnya atau yang seasin-asinnya, kalau makannya sendiri-sendiri.”

Jelajah Kuliner Lewat Film Aruna dan Lidahnya, Auto Bikin Laper!
Kisah sederhana yang menyajikan drama persahabatan, cinta terpendam, dan kuliner indonesia. Sumber: Palari Films via Youtube

Siapa nih yang suka dunia masak-memasak? Sudah kenal dengan Film Aruna dan Lidahnya? Trailer film yang dirilis tahun 2018 ini berhasil menggugah hasrat saya untuk segera menontonnya. Durasi trailer yang kurang dari dua menit ini banyak menyorot dalam jarak dekat makanan-makanan kuliner nusantara. Wuuhhhhh baru nonton trailer saja sudah bikin ngiler pengin ikut kulineran. Ditunjang dengan peran Dian Sastro dan Nicholas Saputra (pasangan favorit saya, hahaha) ditemani Hannah Al Rashid dan Oka Antara, cerita film ini tersaji dengan apik.

Meski Dian Sastro dan Nicholas Saputra merupakan pasangan legenda dalam perfilman, pada film kali ini mereka tak dijodohkan. Aruna (Dian Sastro) dibuat jatuh hati dengan makanan. Keinginannya untuk kuliner terwujud sembari ia menjalankan tugasnya sebagai epidemologi, menginvestigasi isu wabah flu burung. Dibalut dengan cerita persahabatan antara Aruna dan dua sahabatnya Bono (Nicholas Saputra) dan Nad (Hannah Al Rashid), film ini semakin berwarna. Ditambah dengan kehadiran Farish (Oka Antara) menambah serunya jalan cerita.

Dari berbagai dialog cerdas dalam film, saya sangat setuju dengan ucapan Bono kepada Farish di pertengahan film, “hidup itu kayak makanan, dalam satu piring ini lo bisa ngerasain yang sepait-paitnya atau yang seasin-asinnya, kalau makannya sendiri-sendiri.” Sepandangan dengan saya yang juga sedikit banyak mengenali bumbu-bumbu dapur. Coba bayangkan, bagaimana rasanya makan bawang putih dua siung? Bawang merah tiga siung? Garam satu sendok teh? Tentunya sangat mengagetkan lidah bukan? Lain cerita jika bumbu-bumbu itu ditumis bersama telur, cabai, daun bawang, merica, kecap, potongan ayam, kemudian ditambah nasi, menjadi nasi goreng yang harum. Dari sini, dapat ditilik bahwa film ini juga menitipkan pesan-pesan moral bagi penontonnya.

Selain itu, ada dialog dari Pak Musa yang sukses membuat otak saya travelling membayangkan makanan yang dideskripsikan Pak Musa. Makanan apa itu? Soto Lamongan! Yap! Kesenangan istri Pak Musa yang sudah lebih dulu wafat, diceritakan dengan apik dan cukup membuat saya merasa haru. Bapak paruh baya ini tengah terbaring sakit karena virus flu burung, dengan mata sayu Pak Musa mengisahkan tentang soto buatan istrinya, “dari dulu kesenangannya adalah masak soto lamongan, dimasak sore. Daging ayam direbus, sambil nunggu matang, dia nyiapin bumbunya soto, lalu bumbu ditumis, haruuum. Bisa menggoda perut. Bikin keroncongan. Ayam sudah masak, dicampur dengan bumbu, yang digoreng, ayam disuwir-suwir. Itu diberi kuah, koya, masih ditambahi dengan jeruk nipis, juga diberi seledri, bawang goreng, siapin sambel, haduuh, soto lamongan siap disantap.”

Scene ini betul-betul menggugah selera saya akan Soto Lamongan. Saya langsung teringat Soto Naila di daerahku, Jatinangor, Sumedang. Soto Naila ini benar-benar hampir tak pernah sepi pembeli, buka jam 7 pagi, biasanya maksimal paling siang sampai jam 12 siang. Kadang juga jam 11 mulai beres-beres karena sudah ludes.

Soto Naila menyediakan Soto Lamongan dengan variasi daging ayam dan sapi. Pembeli juga dapat  memesan kulit ayam sebagai tambahan topping. Warna kuning yang khas dari Soto Lamongan dan bahan-bahan utama soto lengkap tersaji di mangkuk Soto Naila ini. Dihidangkan terpisah dengan piring nasi dan ditemani kerupuk putih di sisi piring. Dari beberapa meter sebelum sampai lokasi, saya yakin aroma Soto Lamongan yang khas akan segera menyesaki hidungmu. Hmmmmm membuat perut berdemo dengan teriakannya yang keras.

Tampilan Soto Naila dengan isi yang lengkap. Sumber: Nurul Fauziyah Febriyanti.

Saya sendiri pun, kadang sudah tak sabar ingin sarapan Soto Naila ini. Sampai-sampai, dari pukul 6.50 sudah kepengin cepet-cepet keluar kos, rela nunggu abangnya masih menyiapkan lapak demi segera menikmati lezatnya sajian Soto Lamongan.

Duh! Deskripsi Pak Musa saja sudah menggetarkan nafsu makan saya. Membayangkan setiap detail proses yang dijelaskan Pak Musa dan menerjemahkannya ke dalam imajinasi saya sendiri. Diperkuat dengan antusias dari Aruna yang menimpali cerita Pak Musa dengan keingintahuan Aruna akan resep Nasi Goreng ibunya yang sampai sekarang belum bisa ia tiru.

Selain scene cerita Pak Musa akan Soto Lamongan, kuliner-kuliner nusantara lainnya dimunculkan dengan cara yang berbeda, namun tak kalah mengundang selera juga. Seperti Rawon Iga Sapi yang disantap dengan telur asin; Kacang Kuah dengan kuah jahe bersantan yang dimakan bersama cakwe goreng; Rujak Soto; Mie Kepiting Singkawang; Campor Lorjuk; Nasi Goreng Pontianak; Choi Pan; dan Mie Loncat Singkawang. Makanan mana aja nih yang sudah pernah mampir di lidahmu? Atau mau lihat preview nya dulu dari film Aruna? Bagikan cerita kulinermu di kolom komentar ya!

Redaktur: Prita K. Pribadi