Kisah Anak Tukang Rongsok, dari Agen Koran Menjadi PNS

Dengan hati ikhlas, doa-doa yang tak luput ia langitkan, dan usaha belajar yang tak kenal lelah, akhirnya membuahkan hasil yang manis. Ia dinyatakan lulus dan mampu menyisihkan 70 orang pelamar di posisi yang sama, dan 8.500 pelamar secara keseluruhan.

Kisah Anak Tukang Rongsok, dari Agen Koran Menjadi PNS
Ansori sedang mengajar mengaji anak-anak | Source : Ansori

Ansori Dasa Putra namanya. Anak ke-10 dari 11 bersaudara. Tinggal di pinggiran Kota Bandar Lampung, tepatnya di Gedong Air, Tanjung Karang Barat. Ansori tumbuh dan besar di keluarga yang terbilang kurang mampu. Ayahnya seorang pencari barang bekas, dan Ibunya pencari sayur dan bawang sisa di pasar, lalu dicuci untuk kemudian dijual kembali.

Tumbuh di lingkungan dengan nuansa religius yang kuat, membuat Ansori jatuh cinta pada pendidikan agama islam. Saat itu, cita-citanya sederhana, masuk dan lulus pesantren lalu menjadi guru mengaji di masjid atau madrasah. Ansori kecil tak seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, untuk bisa terus makan sehari-hari ia harus rela mengorbankan masa kecilnya untuk turut serta membantu kedua orang tuanya bekerja. Tidak sedikit pakaian atau peralatan sekolah yang ia pakai merupakan hasil dari ayahnya mencari di tumpukan barang-barang bekas dari rumah ke rumah.

Namun, sesulit apapun permasalahan hidup yang ia alami, ia tetap bersemangat mengejar cita-citanya itu. Ansori dewasa pun akhirnya mulai mewujudkan mimpi-mimpinya. Berbekal penguasaan materi Al-Quran dan Al-Hadist semasa mengaji rutin di masjid lingkungan rumahnya, ia pada akhirnya lulus dari Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. Selepas itu, ia mengajar di masjid binaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Foto Ansori saat sedang mengajar mengaji muda-mudi LDII Lubuk Linggau
Source : Ansori

Mimpi menjadi guru mengaji sudah tercapai. Namun, Ansori bercerita bahwa 400 ribu per bulan dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sempat ditawari untuk bekerja sampingan dengan berjualan koran, namun ia ragu akan resiko waktu yang akan dijalaninya. Kekhawatiran pun menjadi bayang-bayang akan mengganggu proses belajar mengajar, tanggung jawabnya sebagai guru mengaji, kelelahan fisik dan sebagainya.

Tak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, keinginannya melanjutkan pendidikan Agama Islam ditingkat perguruan tinggi, memotivasi dan membuat ia berani mengambil keputusan untuk berjualan koran sebagai pekerjaan sampingan. Kedua pekerjaan tersebut ia jalani dengan kerja keras dan sungguh-dungguh agar dapat menabung demi mencapai cita-cita barunya, menjadi seorang sarjana illmu pendidikan agama.

Melihat kesungguhan Ansori dalam bekerja, pengurus masjid tempat ia mengajar menawarkan kuliah gratis di Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhar, Kota Lubuk Linggau. Gayung bersambut, Ansori tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun sayang, biaya pendidikan yang diberikan hanya untuk uang pangkal dan biaya semester pertama. Ansori tak goyah, dengan modal tersebut Ia tetap mantap untuk melanjutkan kuliah meski harus bekerja lebih keras lagi dari sebelumnya.

Sadar akan kebutuhan yang semakin bertambah, bermodalkan uang satu juta dari tabungannya, Ansori memberanikan diri untuk "naek pangkat" menjadi agen koran. Dengan begitu, ia mampu menambah pendapatannya untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar uang kuliah rutin tiap semesternya.

Foto Ansori saat mendaftar menjadi agen koran di Linggau Pos
Source : Ansori

Pada 2015, Ansori berhasil lulus kuliah. Dengan jerih payahnya sebagai seorang Agen koran, ia bangga dan telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi orang yang memiliki kesungguhan. Ia pun lulus dengan IPK memuaskan.

Lulus dari IAI Al-Azhar, Ansori mencoba untuk melamar pekerjaan sebagai guru dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sudah dua kali ia ikut setiap ada pembukaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Lubuk Linggau, tapi selalu berujung gagal. Namun, Ansori yakin pada satu pepatah, "usaha tidak akan mengkhianati hasil," katanya saat diwawancarai tim injo.id via WhatsApp, Kamis, 11 Februari 2021. Baginya, "tidak ada kata gagal, melainkan berhasil atau belajar." Dari dua kali percobaan itu, ia belajar dan memperbaiki diri.

Di tengah-tengah jeda kosong antara satu pembukaan ke pembukaan CPNS berikutnya, Ansori masih mengabdikan dirinya di masjid tempat ia mengajar, penghasilan yang terbilang masih kecil dijadikan alasannya untuk “menagih” kepada Tuhan untuk mengabulkan keinginan-keinginan yang sedang ia usahakan. Hingga pada tahun 2019, Ansori kembali mencoba mengikuti tes seleksi CPNS sebagai guru mata pelajaran pendidikan Agama. Dengan hati ikhlas, doa-doa yang tak luput ia langitkan, dan usaha belajar yang tak kenal lelah, akhirnya membuahkan hasil yang manis. Ia dinyatakan lulus dan mampu menyisihkan 70 orang pelamar di posisi yang sama, dan 8.500 pelamar secara keseluruhan.

Foto Ansori bersama para CPNS Lubuk Linggau
Source : Ansori

Ya, dialah Ansori. Anak yang dibesarkan dengan segala keterbatasan, memulai cita-cita kecil dengan mengajar ngaji di masjid hingga menjadi Agen koran. Kini, ia menjadi abdi negara sebagai guru pendidikan agama Islam. Tentu saja, Ansori telah membuktikan keyakinanannya, selalu menanamkan pada diri bahwa, "usaha tidak akan pernah menghianati hasil". Kisah bahagianya semakin lengkap dengan kehadiran seorang sosok perempuan cantik yang kini menjadi istrinya, serta dikaruniai anak-anak yang manis.

Lalu, bagaimana denganmu yang membaca kisah ini? Sedang merasa pesimis dengan hidup? Merasa manusia paling sial? Lihatlah ke bawah, maka kamu akan bersyukur. Lihatlah ke atas, kejar mimpimu dengan niat dan tekad yang kuat. Hanya doa dan usaha yang mampu mengubah takdirmu. Ayo berjuang, selagi Tuhan masih memberimu kesempatan!