Kisah Pasutri, 'Rabosan' Berbagi di Masa Pandemi

Selain berjualan bubur, Bubur Ayam Balap mempunyai program "Rabosan Berbagi". Diambil dari kata Rabosan yang artinya tidak bosan, mereka mengajak orang lain untuk tidak bosan dalam berbagi.

Kisah Pasutri, 'Rabosan' Berbagi di Masa Pandemi
Bubur Ayam Balap yang digagas oleh Bagong, tak hanya dijadikan ladang keuntungan saja, melainkan sebagai wadah untuk berbagi dengan program bernama Rabosan Berbagi di daerah Yogyakarta. Sumber: instagram.com/bubur_ayam_balap

Bubur ayam adalah satu dari beberapa pilihan makanan yang kerap menjadi pilihan untuk sarapan. Kebayang buburnya yang masih beruap, ditambah suwiran ayam, taburan kacang, seledri, daun bawang dan tentu saja kecap. Disajikan dengan siraman kuah kaldu ayam yang nikmat. Makin sempurna dengan renyahnya kerupuk. Setelah bubur tersaji, terjadilah perdebatan duniawi: kamu tim bubur diaduk atau gak diaduk? Kalo aku sih tim bubur gak diaduk dong! Terlepas dari bagaimana kamu menikmatinya, pasti juga udah banyak tukang bubur ayam merajalela di sekitarmu, dengan ciri khas masing-masing.

Seorang pengusaha, baik dalam bidang kuliner ataupun jasa, pasti memiliki tantangannya tersendiri, menuntut kita semakin kreatif dan inovatif agar tak tergerus ketatnya persaingan. "Menjadi sedikit lebih beda, lebih baik, daripada menjadi sedikit lebih baik."  begitu menurut Pandji Pragiwaksono, salah satu stand up comedian Indonesia.

Tampilan bubur ayam balap dengan berbagai topping. Sumber: instagram.com/bubur_ayam_balap

Menjadi sedikit beda, itulah yang dilakukan oleh Bagong, seorang pengusaha “Bubur Ayam Balap” asal Yogyakarta ini. Berpenampilan necis—lengkap dengan pantofel adalah ciri khas dari wirausahawan muda ini. Asal muasal nama bubur ayam balap disematkan pelanggan untuknya. Lantaran, pria yang akrab disapa BG ini ternyata penggemar balapan, begitu juga kebanyakan pelanggannya. "Jadi pelanggan itu kalau dengar bunyi 'teng-teng' itu kan, mereka baru ngambil mangkok akunya udah nggak ada, yaudah ganti nama aja bubur ayam balap."  Jelasnya dilansir dari liputan6.com

Menu yang ia sajikan harganya pun beragam mulai dari lima ribu rupiah sampai lima belas ribu rupiah. Condiment berupa sate telur, sate usus dan sebagainya pun ia juluki spare part. Begitu pula penamaan menu unik lainnya seperti oli samping.

Menu yang ada di warung milik Bagong (BG). Sumber: instagram.com/bubur_ayam_balap

Uniknya lagi, Bubur Ayam Balap yang berdiri sejak Mei 2014 ini tak hanya sekadar berjualan. Setiap hari Rabu, BG dan Yuli melebihkan porsi dari biasanya, khusus untuk dibagikan ke panti Werdha di sekitarnya. Melalui program bernama "Rabosan Berbagi" diambil dari kata Rabosan yang artinya tidak bosan, mereka mengajak orang lain untuk tidak bosan dalam berbagi.

Bermula ketika dagangannya tidak habis, ada seorang temannya  bilang “kalau nggak habis kasih ke panti nanti uangnya minta saya”. “Dia itu yang pertama ikut berbagi,” lanjut BG.  Pada awal RabosanBerbagi, BG membagikan 10 sampai 20 bungkus hingga saat ini. Selain mengandalkan sebagian keuntungan jualannya untuk berbagi, ada semakin banyak donatur yang ingin membantu sesama melalui kegiatan RabosanBerbagi.

Ketika Covid-19 menyerang, usaha milik BG merupakan satu dari sekian banyak usaha yang terdampak. Bahkan, ia harus rela menjual motornya demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Dimasa krisis seperti ini, biasanya para pedagang memutar otaknya agar tetap menghasilkan uang untuk bertahan menghidupi anggota keluarganya. Namun, lain halnya dengan BG dan istrinya, Yuli. Masa pandemi justru dijadikan kesempatan untuk tetap semangat berbagi, membantu sesama yang kesusahan.

Pasangan suami istri yang tak patah arang ini tetap konsisten berbagi, walaupun jumlah yang dibagikan berkurang. Programnya tetap berjalan sampai saat ini. Rabosanberbagi juga disebar luaskan di media sosial, dengan harapan  bisa menularkan semangat berbuat baik kepada sesama. Saat ini, BG tak hanya membagikan bubur gratisnya ke panti Werdha saja, melainkan SLB dan panti asuhan sekitar Jogja juga menjadi tujuannya.

Bagong dan para donatur membagikan buburnya ke berbagai panti maupun SLB. Sumber: instagram.com/bubur_ayam_balap

Pria 32 tahun ini menjadi sosok yang mengajarkan kita bahwa sekejam apapun dampak pandemi, tak akan jadi alasan kita untuk saling berbagi. Terbukti dengan semakin banyak berbagi, justru banyak hal baik yang menghampiri. BG dan sebagian besar rekan donaturnya pun turut berdampak, yakni pendapatan yang berkurang dratis. Jika biasanya mampu memberi 200 porsi, kini berkurang menjadi 50 porsi.

Sedikit banyak yang bisa kita beri, sangat berarti bila diberi sepenuh hati. Sepasang suami istri ini mampu menginspirasi kita untuk tetap berbagi walau di tengah badai pandemi. Untuk aku, kamu, dia, dan mereka—yang diberi lebih rezeki dalam apapun bentuknya, sekarang adalah waktunya. Singsingkan lengan untuk  saling bantu sesama, agar semua bisa rasakan nikmatnya hidup selayaknya.

Redaktur: Prita K. Pribadi