Kopi Tuli: Melihat Suara Lalu Mengecap Rasa

Bukankah sebagian dari kita sudah lupa cara berkomunikasi yang hangat? Sebabnya, koneksi itu diganti dengan komunikasi tanpa distrasksi satu sama lain, tatap muka dan indepth conversation menjadi tujuan agar budaya itu dapat melekat kembali di hati orang-orang. Sama hal dengan tagline kedai ini, the taste that touch your heart.

Kopi Tuli: Melihat Suara Lalu Mengecap Rasa
Koptul atau Kopi Tuli digagas oleh tiga anak muda penyandangan disabilitas, tuna rungu. Kekurangannya justru menemukan jalannya untuk mendirikan Koptul yang sudah merambah diberbagai tempat Jakarta dan Depok. Sumber: journal.sociolla.com

Bagi seorang penyuka kopi, kini patut semakin bergembira sebab merajalelanya coffee shop dengan pelbagai ide unik sang pemilik. Tren minuman yang satu ini juga banyak digilai tanpa memandang gender, mulai dari kopi yang rasanya manis sampai ke pahit dengan ragam nama keren si kopi. Memasuki musim hujan, kopi menjadi salah satu teman hangat bagi mereka. Uniknya bukan sekadar teman minum, melainkan teman mengobrol bersama siapa aja.

Sama halnya dengan keunikan coffee shop bertitel “KOPTUL” yang berarti singkatan dari Kopi Tuli. Dari namanya aja udah kebayang seunik apa konsep dan cerita berdirinya kedai satu ini bukan? Tempatnya juga tersebar dibeberapa tempat karena sudah punya tiga cabang. Duren Tiga dan Krukut menjadi dua pilihan untuk kawasan di Jakarta, sementara satunya lagi ada di Depok. Sayangnya, saat aku pengin mampir ke salah satu cabang, di Jakarta Selatan, bapak security sekitar sana bilang kalau kedai ini sudah tidak beroperasi setelah beberapa bulan sejak pandemi Covid-19 muncul. Namun rasa penasaranku tentang kedai unik ini tak terhentikan hanya karena gak jadi ngopi guys! Kali ini, aku bakal ‘meracuni’ kalian dengan pertanyaan, “Mengapa kita harus ngopi di Kopi Tuli?” Penasaran kan sama konsep uniknya? Yuk simak ceritanya!

Terdengar ear catching memang saat pertama kali mendengar Kopi Tuli. Pasalnya, kedai ini didirikan oleh tiga orang sahabat yang juga merupakan teman tuli atau istilah umumnya tuna rungu. Ketiga orang hebat ini diantaranya Mohammad Andhika Prakoso, Putri Sampaghita Trinawinny, dan Tri Erwinsyah Putra.

Sang penggagas Kopi Tuli yaitu Mohammad Andhika Prakoso, Putri Sampaghita Trinawinny, dan Tri Erwinsyah Putra. Sumber: www.digination.id

Sesuai dengan namanya, Kopi Tuli menjadi coffee shop pertama yang menjadi wadah untuk berinteraksi antara teman dengar−sebutan akrab orang yang bisa mendengar, dengan teman tuli. Jika kebanyakan kedai kopi menyediakan Wi-Fi kencang sebagai andalannya, disini kamu tak akan mendapatkan fasilitas tersebut. Bukankah sebagian dari kita sudah lupa cara berkomunikasi yang hangat? Sebabnya, koneksi itu diganti dengan komunikasi tanpa distrasksi satu sama lain, tatap muka dan indepth conversation menjadi tujuan agar budaya itu dapat melekat kembali di hati orang-orang. Sama hal dengan tagline kedai ini, the taste that touch your heart. Selain menikmati cita rasa, obrolan tanpa kehadiran koneksi canggih masih bisa tetap hangat layaknya secangkir kopi yang baru datang−sekalipun bagi si tuna rungu.

Tak perlu takut tak bisa memesan saat berada disini. Meskipun yang bekerja di kedai ini adalah teman-teman tuli, akan tetapi mereka mampu membaca gerak bibir kalian dan akan menjawabnya dengan bahasa isyarat sederhana yang akan mudah kalian pahami. Setiap mejanya pun disediakan 'contekan' bahasa isyarat yang bisa kamu pelajari sembari menunggu pesananmu.

Setiap meja diberikan pajangan mengenai bahasa insyarat sederhana. Sumber: voanews.com

Andhika cs tak main-main dalam memulai usaha ini. Mereka mempelajari semuanya dengan otodidak dan telah melewati banyak eksperimen sampai bisa mendapatkan menu yang pas. Bahkan mereka  pernah sampai 'mabuk' kopi karna terlalu banyak mencicipi kopi diluar batas toleransi tubuh mereka. Demikian yang mereka isyaratkan ketika bercerita pada cikopi.com

Untukmu yang bukan penggemar kopi, tenang saja. Mereka juga menyediakan berbagai minuman non coffee kok. Pemilihan namanya pun dikonsep unik layaknya Matahari (kombinasi teh dengan lemon), Laut Biru (minuman segar racikan khas Koptul), Marmer Hitam (kombinasi arang charcoal dengan susu), dan Tanah Susu (kombinasi coklat dengan susu). Bahkan kemasan minumannya pun terdapat desain bahasa isyarat dari berbagai abjad.

Berbagai menu Kopi Tuli dengan ragam nama yang unik mulai dari kopi sampai non kopi. Sumber: traveloka.com

Kemasan plastik dari Kopi Tuli yang desainnya terdapat berbagai bahasa isyarat untuk tuna rungu. Sumber: kompas.com

Di kedai ini, teman dengar tak perlu sungkan untuk minta diajari mengenal bahasa isyarat. Di lantai dasar adalah tempat yang biasa digunakan untuk bercengkerama sesama pengunjung, baik teman dengar maupun teman tuli. Kalau kamu memang hanya ingin menikmati menu tanpa interaksi, kamu bisa duduk di lantai dua.

Selain ngopi dan bercengkrama, Kopi Tuli sering mengadakan kelas kolaborasi yang bertujuan mengajak khalayak luas untuk belajar bahasa isyarat, juga secara tersirat menyampaikan bahwa teman tuli juga bisa loh diajak berdiskusi. Lebih jelasnya bisa kalian temui laman instagram @koptul.id yang sering mem-posting jadwal belajar bahasa isyarat.

Lalu, bagaimana Koptul ini bisa berdiri hingga punya tiga anak di beberapa tempat? Berangkat dari kekecewaan para teman tuli ini, yang sempat ditolak oleh beberapa perusahaan dengan alasan keterbatasan kemampuan komunikasi. Padahal UU No. 8 Th. 2006 Pasal 11 menjelaskan tentang hak penyandang disabilitas dalam dunia kerja, salah satunya memperoleh kerja dengan tanpa diskriminasi. 

Dilatarbelakangi oleh jatuh bangunnya penolakan tadi, membuat Putri berpikir, bagaimana caranya para disabilitas punya hak yang sama dalam bekerja, khususnya tuna rungu. Ketika ditanya oleh Putri, apa yang menjadi kesukaan Andhika. Jawabannya kopi! Darisana, terbersitlah ide untuk membuat kedai kopi yang bisa dikelola oleh tuna rungu. Pada tanggal 12 Mei 2018, lahirlah Koptul atau Kopi Tuli yang murni karyawannya pun dari seorang tuna rungu. Di Koptul, istilah tersebut diganti dengan teman tuli.

Rasa kecewa itu, justru menjadikan sumber semangat bagi para pendiri Koptul agar teman-teman disabilitas, terutama tuna rungu bisa membuktikan bahwa mereka dapat berkarya. Sang pemilik, mengispirasiku bahwa komunikasi bukan satu-satunya syarat seseorang itu apik dalam bekerja. Berusaha dan terus berpikir menghadirkan segala inovasi yang kreatif menjadi jalan mereka dapat sesukses ini. Tak hanya materi, mereka menyadarkanku bahwa komunikasi tak terbatas dengan suara lantang melulu. Dalam sunyi kita dapat menyentuh hati orang-orang, dengan melihat kita memahami suara mereka, lalu dengan rasa kita menjadi semakin akrab.

Inspiratif banget ya ide para penyandang disabilitas ini? Nah, untuk kamu yang sudah diberikan kesempurnaan fisik, sudahkah menginspirasi banyak orang? Bagi kamu yang memiliki keterbatasan seperti mereka, jangan patah semangat dan ide! Apapun keadaannya bersyukurlah. Siapa tahu dengan keadaan tersebut dapat membawamu ke jalan yang lebih hebat lagi loh. Yuk mulai apresiasi dan cintai diri apa adanya, agar bisa ikuti jejak sukses mereka!

Redaktur: Prita K. Pribadi