Menjemput Rezeki Tanpa Henti ala Siti Aisah

Gaya hidup anak muda sekarang yang apa-apa nyicil dan minjem uang buat beli barang branded demi pengakuan sosial atau konten di instagram ini sangat mengkhawatirkan. Padahal nggak mampu beli jadinya rela punya utang hingga tak terasa sampai menumpuk.

Menjemput Rezeki Tanpa Henti ala  Siti Aisah
Potret Siti Aisah berprofesi PNS, yang merangkap jadi Entrepreneur. Sumber: Dokumen pribadi Siti Aisah

Gaya hidup anak muda sekarang yang apa-apa nyicil dan minjem uang buat beli barang branded demi pengakuan sosial atau konten di instagram ini sangat mengkhawatirkan. Padahal nggak mampu beli jadinya rela punya utang hingga tak terasa sampai menumpuk. Generasi Z ini maunya yang enak-enak aja. Bahkan tak sedikit yang memanfaatkan ikatan darah untuk menjalani kehidupan yang lebih instan. Tentu menjadi kebiasaan buruk bagi negeri ini. Nantinya, kalau sikap orang begitu semua, gak akan ada yang berlomba secara skill, melainkan menggantungkan hidupnya pada orang lain.

Punya barang branded dan memperlihatkan gaya hidup di media sosial mungkin tampak menyenangkan bagi banyak orang. Namun, hal itu tak tercermin pada sang Pegawai Negeri Sipil (PNS), Siti Aisah. Baginya, berdagang adalah hal yang menyenangkan disamping melakukan pekerjaan lain yang bukan “miliknya” itu. Sadar hanyalah manusia biasa, Siti Aisah tidak disilaukan dengan hal mewah diluar sana. Keluar dari zona nyaman, membuat bisnis juga sebagai bentuk sunah Rosul. “Biar hidup ada variasi dan seninya. Utamanya untuk sedekah lalu menjalankan sunah nabi yaitu berdagang,” jelas Siti Aisah saat ditemui di rumah, Bandung, Sabtu (12/03).

Guru yang sehari-harinya mengajar mata pelajaran sains di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini tak begitu saja mengandalkan gaji yang datang setiap bulan, hingga ia bisa menyekolahkan kelima anaknya. Selain mengejar kebutuhan, ia juga belajar dari pengalaman meruginya dalam membuka bisnis jasa cicil, sehingga membuat ia berjualan yang sifatnya home made saja. “Dulu menjual barang cicilan gitu ngambil dari orang, eh ternyata orangnya nipu akhirnya sekarang lebih milih jualan barang yang jelas sudah ditangan kita.”

Melakukan kegiatan produktif seperti ini, tak sekadar menambah penghasilan. Menyimpan uang jangka panjang berbentuk investasi dilakukan Siti Aisah. Sedekah menjadi pilihan investasi yang tepat. Menurutnya, investasi akhiratlah yang paling penting dan bisa memancing rezeki lebih cepat. “Ketika kita banyak dapat uang, sedekahnya juga kudu banyak,” katanya. Selain itu, ia memilih tabungan haji dan investasi tanah sebagai bekal dunia akhirat lainnya.

Ia selalu menanamkan prinsip hidup dimana manusia yang mau berusaha maka Allah tidak akan menyia-nyiakan, dan sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. “Jadi selain produktif juga, berjualan itu untuk membantu mempermudah orang lain kalau nyari barang atau makanan gitu,” tuturnya. “InsyaAllah pahala juga ikut mengalir kalau niatnya baik.”

Produk makanan hand made Lauk Mais ala Siti Aisah. Sumber : lauk.mais

Produk home made dari ibu lima anak ini berupa makanan seperti emping, rengginang, kerupuk udang, bawang goreng, dan kentang mustofa. Khusus emping, Siti Aisah menyediakan bentuk mentah dan gorengnya dengan variasi rasa asin dan manis. Sama pula dengan kentang mustofa yang bisa dipilih rasa mulai dari orginal hingga pedas.

Produknya dikemas bermacam rupa. Ketika ada momen tertentu, model hampers telah di-launching tahun lalu saat bulan Ramadhan. Hasil buatan tangan Siti Aisah yang terkadang dibantu anak-anaknya ini bisa dinikmati dengan pesan lewat akun Instagram. Bisa juga pesan langsung ke Siti Aisah, lalu diantar ke rumah yang masih bisa dijangkau sendiri. “Yang membuat orang-orang pada beli tuh karena kan ibu mah suka naik motor kemana-mana, jadi ibu lebih suka anterin barangnya nyampe rumah. Itu trik promosi dan mempermudah orang sih, gratis ongkir sampai rumah.”

Tiada hari tanpa produktif. Itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan Siti Aisah. Selain aktif berdagang dengan penawaran lewat obrolan di sekolahnya dan grup WhatsApp, ia tak melupakan perannya sebagai ibu rumah tangga. “Ibu gak biasa buat rebahan nggak jelas. Minimal ada kegiatan fisik ke pasar, beres-beres rumah, kalau  nonton Youtube pun ibu berusaha cari ilmu baru kayak cara masak, hal-hal yang belum pernah ibu coba. Atau mendengar motivasi biar hidup semangat terus!” ceritanya menggebu-gebu.

Berpengalaman memulai bisnis sejak tahun 1995, membuat Siti Aisah terbiasa produktif. Walaupun dimana ada waktu vakum selama beberapa tahun, tapi tak membuat Siti Aisah berhenti sama sekali. Gambaran Siti Aisah tak terlihat sekadar ‘gila uang’, melanjutkan bisnis pada 2003 membuatnya bisa menikmati hidup seperti sekarang, mulai dari meningkatkan kualitas hidup hingga lebih memudahkan ia untuk beramal terus-menerus. Diniatkan karena Allah menjadi patokannya dalam melakukan segala sesuatu. Berusaha menjadi lebih baik disetiap kehidupannya juga yang selalu ia tegakkan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri” (Q.S Ar- Ra’d : 11). Bagaimana denganmu yang selalu mengeluh dengan banyaknya pekerjaan? Niat baik dan usahamu tidak akan mengkhianati hasil kok. Yuk keluar dari zona nyaman! Menjadi produktif tidak akan membuat kamu lelah dengan percuma juga.

Redaktur: Prita K. Pribadi