Seruan Ibu-ibu Jadi Pemicu Estafet Kebaikan di Beijing

"Sebagaimana virus-virus pernapasan yang lain, virus corona baru tidak menular melalui cairan ASI. Ibu menyusui dapat melanjutkan ASI sambil terus melakukan tindakan-tindakan pencegahan," ujar dr. Reisa Broto Asmoro, salah satu tim Satgas Covid-19 Nasional.

Seruan Ibu-ibu Jadi Pemicu Estafet Kebaikan di Beijing
Ilustrasi bayi yang sedang mengkonsumsi ASI perah ibu. Seorang bayi harus mendapatkan donor ASI karena sang ibu terjangkit positif Covid-19. di Beijing, China. Sumber: id.theasianparent.com

ASI atau Air Susu Ibu adalah asupan paling penting dalam kehidupan bayi, terutama di enam bulan pertamanya. Mengutip dari nutriclub.co.id, ASI memiliki 4 komponen utama yang terkandung di dalamnya, yaitu : Laktosa, Lemak, Protein, dan juga Oligosakarida. Asi juga terbukti memiliki banyak manfaat untuk bayi maupun ibunya, salah satunya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, membantu proses perkembangan otak dan memperlancar pertumbuhan fisik untuk bayi. Manfaat yang bisa dirasakan ibu antara lain mengurangi trauma dan mencegah terjadinya kanker payudara bila ibu menyusui dengan rutin pada kedua payudaranya

Bagi para ibu, menghasilkan dan memberikan ASI adalah sebuah nutrisi ideal bagi tumbuh kembang buah hatinya. Namun hal itu tak semulus ekspektasi, terlebih untuk para bayi yang lahir di masa pandemi. Banyak anak yang terpisahkan dari orang tua karena positif Covid-19. Mereka yang terjangkit, harus rela menjalani isolasi mandiri demi menghindari penularan. Padahal, dilansir dari halodoc.com, menurut Kemenkes - Direktorat Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat  mengatakan, pemberian ASI sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan bayi.

Selain itu kekhawatiran dapat menularkan virus melalui fisik, banyak ibu yang kebingungan terkait kebenaran penularan dari cairan ASI. Bahkan, saking takutnya sang ibu tak berani memberi ASI sehingga susu formula menjadi alternatifnya. "Sebagaimana virus-virus pernapasan yang lain, virus corona baru tidak menular melalui cairan ASI. Ibu menyusui dapat melanjutkan ASI sambil terus melakukan tindakan-tindakan pencegahan," ujar dr. Reisa Broto Asmoro, salah satu tim Satgas Covid-19 Nasional, melalui tanya jawab di laman resmi #SatgasCovid19, dikutip dari cnnindonesia.com Senin (19/10).

Kondisi sulit itu dialami seorang ibu di distrik Shunyi, Beijing, China. Terkonfirmasi positif Covid-19 sejak 31 Desember 2020, membuatnya harus isolasi mandiri. Sementara bayi yang masih berusia 8 bulan itu dikarantina di salah satu hotel di China, bersama ayahnya. Peristiwa ini tentu berat bagi ketiganya. Pasalnya, sebagai orang tua baru seharusnya dapat memantau secara langsung perkembangan bayi dan adaptasi lainnya yang dinilai penting.

Akibat peristiwa ini, banyak ibu di media sosial turut merasa iba. Membayangkan posisi sulit sang ibu asal Shunyi itu. Ditambah, jika sang bayi menolak diberikan susu formula. Perlu beradaptasi amat lama untuk bisa beranjak dari ASI.

Pandemi yang masih melanda negeri ini, membuat para ibu juga ketakutan jika suatu saat ada dalam posisi tersebut. Hal itulah yang akhirnya menggerakkan hati pejabat urusan perempuan di 25 kota dan beberapa distrik di sekitarnya. Mereka menyerukan ajakan kebaikan dengan mencari donasi ASI demi memberi nutrisi si bayi melalui informasi yang disebar ke seluruh wanita di distrik Shunyi dan sekitarnya.

“Seorang anak berusia delapan bulan berada difasilitas karantina, sangat membutuhkan ASI segar atau beku. Silakan hubungi saya secepat mungkin jika Anda dapat menawarkan." Demikian bunyi pesan yang disebarluaskan.

Melalui wadah tersebut, dimulai dari Xu Yue, salah seorang warga Beijing yang menjadi donatur dan menghubungi via telepon. Ia mengajukan donasi sebanyak 20 kantong ASI, yang biasanya diberikan kepada putrinya sendiri.

Hasil pengumpulan ASI dari para donatur di Beijing, China siap diberikan kepada bayi yang tak bisa memiliki nutrisi ASI dari ibu yang terjangkit virus Covid-19. Sumber: nasional.tempo.co

Setelah proses via telpon tadi, akan ada seorang petugas datang menjemput kantong dari para pendonor ASI. Pemberian desinfeksi pun tak luput dari perhatian, agar aman diminum untuk bayi. Hal ini mendapat respon positif dari masyarakat terutama para ibu. Semakin banyak yang mengikuti jejak Xu Yue, dengan mengirimkan persediaan ASI baik dalam bentuk beku maupun cairan ASI yang masih segar. Bayi pun tampak gembira, tidak memberi penolakan layaknya saat diberikan susu formula.

Tak hanya para ibu dan pendonor, pihak hotel yang dijadikan tempat karantina itu turut andil memfasilitasi kebutuhan sang bayi. Mereka menyediakan freezer khusus yang bisa digunakan untuk menyimpan persediaan ASI selama masa karantina.

Kebaikan masyarakat China, tak berhenti sampai situ. Semakin banyaknya orang yang ikut mengulurkan tangannya dengan memberi kebutuhan bayi yang lain, seperti kasur, mainan, penghangat susu, selimut dan sebagainya. Bahkan ada seorang dokter yang menawarkan diri kepada sang ayah jikalau butuh batuan dalam merawat bayinya.

Aku adalah satu dari sekian banyak warganet yang takjub dengan kebaikan yang terjadi disana. Ternyata masih banyak manusia baik di dunia ini. Bahkan, tak sedikit pula orang berempati hingga menangis.mendengar kabar dari Beijing. Termasuk aku? Ya, aku juga menangis disini membayangkannya. Seandainya tak ada yang datang membantu bayi dan keluarga tersebut, akan seperti apa ya jadinya? Menurutku, kekompakan manusia di negeri ini adalah kunci menghadapi pandemi. Menerima dan kerjasama dibutuhkan, selain upaya-upaya memutus tali penularannya. Mari berempati! Penggambaran saling membantu ini, apakah sudah terjadi di sekitarmu? Atau minimal dari dirimu sendiri.

Redaktur : Prita K. Pribadi