Toxic Masculinity: Laki-laki Tidak Boleh Menangis?

Laki-laki dihadapkan pada dilema untuk mencari bantuan ketika dipertemukan pada permasalahan kesehatan mental, mendatangi psikolog ataupun psikiater. Dilema antara akan menghadapi risiko kritik dari laki-laki lain atau mengikuti norma dan mengabaikan permasalahan mereka.

Toxic Masculinity: Laki-laki Tidak Boleh Menangis?
Ilustrasi laki-laki yang harus selalu tegar walaupun kepengin menangis. Ronaldo yang tetap tersenyum sembari mengacungkan jempol dengan mata sembabnya. Sumber: twitter.com

“Kamu kan laki-laki, masa nangis?”

“Ayo bangun, cuma jatuh biasa aja, ga usah nangis.”

Seorang anak kecil dengan sigap menghapus air matanya, sembari masih meringis menahan perih. Luka di lututnya tak digubrisnya demi mempertahankan bola matanya tak terus berkaca-kaca. Berikutnya tawa orang dewasa mengiringi dan menganggapnya sebagai lelucon.

Celetukan-celetukan seperti ini masih saja terdengar di abad 21. Sedari kecil kita sering kali disuapi mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap. Bahwa perempuan adalah makhluk emosional, sedangkan laki-laki tidak. Itulah stereotype emosional utama. Laki-laki itu harus selalu kuat, tidak boleh menunjukkan kelemahan, tidak boleh mengekspresikan sisi emosional mellow yang sering dianggap identik dengan perempuan. Dikte-dikte ini akrab dikenal sebagai toxic masculinity.

Toxic masculinity merupakan anggapan sempit tentang peran dan sifat laki-laki. Laki-laki tidak memasak di dapur, tidak mengerjakan pekerjaan rumah layaknya wanita, dan masih banyak penyempitan peran-peran lainnya. Lalu, bagaimana Anda menjelaskan tentang chef yang berhasil didominasi oleh para lelaki seperti Chef Juna dan Chef Arnold? Bagaimana pula peran para wanita yang duduk di kursi pejabat bertahun-tahun? Atau contoh sederhananya, perempuan yang bekerja di pabrik atau kuliah jurusan teknik. Pekerjaan 'kuli' semacam itu masih kita temui pada masa ini. Sama halnya dengan anggapan “laki-laki tidak menangis,” norma ini sudah lama ada yang dapat menyebabkan laki-laki memilih menekan emosinya daripada menangani emosi tersebut secara sehat.

Berikutnya kata ‘gengsi’ menjadi alasan ketika laki-laki ingin mengungkapkan perasaan atau emosinya. Mereka menolak terbuka soal perasaannya karena stereotip yang terlanjur tumbuh. Laki-laki yang kuat harus bisa menguasai emosinya dan tidak menunjukkan rasa sedih mereka.

Perasaan marah, merasa bersalah, sedih, bahagia, lega, menyesal, bahkan rasa bersyukur–dapat berujung dengan air mata bukan? Air mata dapat melepaskan stres dan melahirkan kelegaan. Hal ini sangat manusiawi dirasakan siapa saja tanpa mengabaikan gender tertentu. Premis inilah yang mendasari pandangan saya bahwa ada kesalahan yang telah lama berakar dibudaya kita.

Meski sudah lama ada, stereotip tersebut tidak dapat dinormalisasi. Menyudutkan pria dan mewujudkan ketidakadilan gender. Iya betul, ketidakadilan gender. Mungkin biasanya kita hanya mendengar istilah ketidakadilan gender yang ditujukan bagi kaum hawa. Pada kenyataannya, kaum adam pun tak luput menjadi objek dari pelabelan yang tidak tepat ini.

Laki-laki dihadapkan pada dilema untuk mencari bantuan ketika dipertemukan pada permasalahan kesehatan mental, mendatangi psikolog ataupun psikiater. Dilema antara akan menghadapi risiko kritik dari laki-laki lain atau mengikuti norma dan mengabaikan permasalahan mereka. Menurut American Psychological Association, lebih kecil kemungkinannya bagi laki-laki untuk mencari bantuan terkait kesehatan mental mereka dibandingkan wanita. Karena dengan meminta bantuan atas perasaan mereka, akan dianggap lemah–bukan laki-laki jantan. Keengganan meminta pertolongan ini juga menjadi salah satu hal yang yang disebutkan Suzannah Weiss dalam tulisannya tentang 6 Harmfull Effect of Toxic Masculinity.

Ilustrasi foto laki-laki menangis, by Tom Pumford / Unsplash

Ilustrasi laki-laki menangis. Sumber: tompumford/unsplash

Di tengah stereotip yang masih bergaung ini, salah seorang mahasiswa Bandung, FR, dia berani mengakui kesedihan dan ketidakstabilan emosinya saat ditanya oleh tim injo.id via Whatsapp pada Jumat (19/03). Dia menyebutkan, bahwa dia meminta bantuan kepada teman mahasiswanya dari Fakultas Psikologi, sebagai tahap awal bentuk kepedulian dirinya terhadap emosinya. Dia bahkan mengaku pernah menangis saat rapat dimana dia sebagai ketuanya, “Kayaknya urat maluku sudah putus mbak wkwk, dulu pernah nangis waktu rapat soalnya.” FR menyebutkan bahwa dia menangis karena merasa belum bisa memberikan usaha terbaiknya baik di kampus maupun organisasi. Padahal, terdapat beberapa anggota perempuan dari divisi dia yang mengikuti rapat saat itu. Tapi dengan lega FR menyebutkan anggota perempuan tersebut memberikan respon yang positif dengan mengatakan bahwa wajar bagi laki-laki untuk merasa sedih dan menangis jika memang ingin menangis.

Selain itu, AW (22) juga tidak menyetujui adanya anggapan-anggapan tersebut. Ia merasa bahwa merasa bersedih dan menangis itu hal yang wajar bagi laki-laki, layaknya perempuan. “Ya biasa aja mbak, memang nangis salah ya? Kita gak harus terus kelihatan kuat di depan perempuan,” jelasnya pada tim injo.id pada Senin (22/03).

Kesalahan bagi Allah menciptakan perbedaan kuantitas emosi antara laki-laki dan perempuan. Kira-kira begitulah kesimpulan saya pribadi, ketika masih saja ada argumen bahwa wanita sebagai makhluk yang lemah sehingga wajar jika menangis–namun anggapan sebaliknya bagi pria.

Emosi sedih itu nyata dan benar adanya.

Anggapan maskulinitas mengenai pria harus kuat dan tidak boleh bersedih, apalagi menangis harus direvisi. Tidak mengapa jika laki-laki bersedih, tidak mengapa jika mereka menangis dan membutuhkan tempat curhat. Tidak apa.

Seperti kisah yang diambil dari kutipan hadis berikut,

عَنْ هَانِئٍ مَوْلَى عُثْمَانَ قَالَ كَانَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ يَبْكِي حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ .... رواه ابن ماجه

Dari Hani` bekas budak 'Utsman dia berkata, "Jika Utsman bin 'Affan berhenti disuatu kuburan, dia menangis sehingga jenggotnya basah.” ... (H.R. Ibnu Majah)

Redaktur: Prita K. Pribadi